Selasa, 08 Januari 2013

Teori self management dan bimbingan konseling


  1. Teori Self- Management (menejemen Diri)
    1. Pengertian Self-Management
Manajemen menunjuk kamus besar bahasa Indonesia (Balai Pustak, 2001) memiliki dua arti, yaitu :
  • Penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran dan
  • Pimpinan yang bertanggung jawab atas jalannya perusahaan dan organisasi.
Manajemen menurut James A.F. Stoner : Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan semua sumber daya yang ada pada organisasi yang telah di tetapkan sebelumnya. Pengertian Manajemen Menurut Mary Parker Follet : Manajemen adalah suatu seni, karena untuk melakukan suatu pekerjaan melalui orang lain di butuhkan keterampilan khusus.

Kata diri, pribadi, individu, merupakan totalitas manusia sebagai perpaduan dari jasad dan rohani, fisik yang bias kita liat dan sesuatu yang tak terlihat yang menggerakan fisik (hati; pikiran; jiwa). Diri adalah totalitas dari pemikiran, keinginan, dan gerakan yang dilakukan dalam ruang dan waktu. Maka, diri meupakan perpaduan antara intelektual, emosional, spiritual, dan fisik. Menurut Stephen M. Edelson, Ph.D. manajemen diri adalah istilah psikologi yang digunakan untuk menjelaskan proses mencapai kemandirian (personal autonomy).
Secara istilah manejemen diri yaitu menempatkan individu pada tempat yang sesuai untuk dirinya dan menjadikan individu layak menempati suatu posisi sehingga tercapai suatu prinsip laki-laki yang kapabel pada posisi yang tepat (yakni, menyediakan posisi untuk tiap-tiap individu pada posisinya secara tepat).
Jadi, pada dasarnya manajemen diri merupakan pengendalian diri terhadap pikiran, ucapan, dan perbuatan yang dilakukan, sehingga mendorong pada penghindaran diri terhadap hal-hal yang tidak baik dan peningkatan perbuatan yang baik dan benar. Manajemen diri adalah sebuah proses merubah “totalitas diri” baik itu dari segi intelektual, emosional, spiritual, dan fisik agar apa yang kita inginkan (sasaran) tercapai.

    1. Dimensi Potensi Self-Management
Yang menjadi dimensi potensi pada aspek manajemen diri adalah :
  • Remaja dapat mengenali dan memahami dirinya atau potensi yang dimilikinya dan melakukan perubahan dalam berbagai aspek baik aspek intelektual, emosional, spiritual, dan fisik menuju kearah yang lebih baik, serta mengelolanya dangan baik.
  • Dapat menemukan peluang diri.
3. Tantangan dan Hambatan dalam Self-Management
Dalam manajemen diri ada beberapa tantangan yang didapatkan oleh
individu, remaja khususnya diantaranya adalah :
      • mampu untuk hidup mandiri, dapat menentukan diri sendiri kemana dia akan melangkah.
      • merumuskan bagaimana caranya untuk meraih impian yang ingin kita capai, dan bagaimana untuk mengelola diri dengan baik.
Lingkungan dapat menjadi hambatan bagi remaja dalam mengelola dirinya
sendiri. Hambatan tersebut adalah : Remaja ketika akan mengelola dirinya sendiri
sering berorientasi kepada orang lain, bukan karena kemauan sendiri. Seharusnya
remaja mempunyai niat yang tulus dari dalam dirinya untuk mengelola dirinya.
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan
diatas, diantaranya :
  1. mampu menerima diri kita apa adanya, baik kelebihan ataupun kekurangan.
  2. melakukan hal yang terbaik, baik untuk diri sendiri, orang lain, lingkungan dan Tuhan.
  3. berani untuk bermimpi dan memimpikan sesuatu.
  4. mampu belajar dari pengalaman dan mampu mengambil hikmah dari suatu kejadian.
4. Dua Belas Strategi Self-Management
Menurut Prijosaksono, Aribowo dan Marlan Mardianto dalam buku self-management terdapat dua belas yang bisa ditempuh agar mempunyai manajemen diri yang baik :
    1. Mengenali dan Menemukan Potensi Diri
Supaya individu dapat mengenali dan menemukan potensi dimiliki,
maka harus :
  1. Mengubah Sikap dengan cara sebagai berikut:
  1. Perlakukan sesama seperti memperlakukan diri sendiri.
  2. Percaya bahwa pasti ada peluang dalam setiap kesulitan
  3. Memandang bahwa hari ini adalah hari yang dijadikan Tuhan buat manusia.
  4. Mengatasi musuh terbesar diri sendiri
  5. Jangan pedulikan pendapat orang lain
  1. Memperbaiki Pencitraan Diri, dengan cara sebagai berikut:
        1. Mengenali siapa diri sendiri
        2. Mengatasi citra diri yang buruk
        3. Membentuk citra diri yang positif
        4. Jadilah sahabat bagi diri sendiri
  1. Terus Bekerja dan Berkarya, dengan cara sebagai berikut:
    1. Mempunyai prinsip dalam bekerja
    2. Bekerjalah dengan penuh rasa cinta
    3. Kegigihan: cobalah sekali lagi!
    4. Jadilah proaktif
    1. Terus Bertumbuh dan Berkembang
      1. Peliharalah kesehatan fisikss dengan cara sebagai berikut:
        1. Kenalilah kondisi fisik diri sendiri
        2. Latihan ESC merupakan olah raga murah dan mudah
        3. Perhatikan makanan yang dimakan
        4. Hindari kebiasaan buruk yang merusak
      2. Tingkatkan Daya Pikiran dengan cara sebagai berikut:
        1. Jangan sia-siakan kekuatan pikiran (kenalilah otak dan pikiran)
        2. Alam bawah sadar merupakan kekuatan maha dahsyat
        3. Relaksasi: jalan menuju alam bawah sadar
        4. Menciptakan realitas baru (The subconscious reprogramming)
      3. Kembangkanlah Kehidupan Spiritual dengan cara sebagai berikut:
        1. Mengenal dan menemukan Tuhan
        2. Meditasi
        3. Memelihara dan mengembangkan kehidupan spiritual
        4. Rasakan kehadiran Tuhan setiap hari
        5. Kehidupan dan kematian
      4. Lakukan Saja Sekarang, dengan cara sebagai berikut:
        1. Mulailah langkah pertama
        2. Tujuan menentukan arah hidup
        3. Penundaan awal kehancuran
        4. Disiplin: mengalahkan diri sendiri
      5. Tetaplah Belajar dengan cara sebagai berikut:
        1. melalui pendidikan dan pembelajaran
        2. meningkatkan kemampuan membaca
        3. menggunakan bahasa dan komunikasi
        4. mengembangkan keterampilan
        5. kaizen: penyempurnaan berkesinambungan


Membangun Jaringan Kehidupan
      1. Kembangkan Jaringan Anda, dengan cara sebagai berikut:
        1. mengetahui fungsi dari suatu jaringan
        2. melatih seni membangun jaringan
        3. memelihara jaringan


      1. Membangun dan Memelihara Hubungan, dengan cara sebagai berikut:
        1. saling mencintai sesama manusia
        2. berkomunikasi empatik
        3. mengatasi sakit hati
        4. sinergi dan kerja sama


      1. Membangun Sesama, dengan cara sebagai berikut:
        1. alasan perlu membangun sesame
        2. membangun sesame
        3. memberdayakan sesame
        4. menciptakan pemimpin


      1. Membangun Kelompok Tumbuh Bersama, dengan cara sebagai berikut:
        1. membentuk kelompok bersama
        2. menyelenggarakan pertemuan kelompok
        3. memelihara keutuhan kelompok
        4. duplikasi kelompok
        5. Q Society
Seorang guru Bk dalam melaksanakan tugas profesionalnya, selalu dihadapkan pada banyak masalah yang harus diselesaikan. Masalah yang dimaksud adalah suatu keadaan dimana guru BK sebagai profesional harus menentukan keputusan atau pilihan tindakan dalam layanan, materi apa yang akan diberikan oleh siswa, metode apa yang tepat digunakan untuk menyampaikan materi, serta media yang bagaimana yang dapat membuat siswa berminat mengikuti layanan secara aktif dan terfokus. Untuk itu, seorang guru BK perlu menggunakan etika profesional dan pertimbangan akademik dalam mengambil keputusan yang tepat.
Stenhaouse (Hopkins, 1996) menyatakan bahwa guru ideal (termasuk guru BK) biasanya bersikap otonom dalam membuat keputusan profesional tidak tergantung kepada kepala sekolah ataupun pengawas. Namun bukan berarti mereka tidak menerima saran, menolak saran, ataupun dukungan dari oranglain. Mereka tahu bahwa tidak semua pemikiran tepat untuk dilaksanakan sampai mereka membuktikannya sendiri melalui penelitian. Oleh karena itu Guru BK adalah subjek utama yang mengambil keputusan terbaik dalam pemberi layanan, bukan hanya pelaksana perintah.
Situasi ini sangat kontras dengan kenyataan sekarang, kebanyakan Guru BK (termasuk guru lain) tidak memiliki otonomi untuk menentukan tindakan yang harus dilakukan, mereka umumnya hanya menjadi pelaksana kebijakan dari atas; dari menteri, kepala dinas pendidikan, pengawas sampai dengan tingkat kepala sekolah. Otonomi Guru Bk sebagai orang yang berhadapan langsung dengan perserta didk tidak muncul.
Selain itu dalam banyak hal, tampak ada pandangan yang menyamakan sekolah layaknya sebuah pabrik. Keduanya sama-sama beroperasi didasarkan atas suatu rasional dasar input-output dengan menempatkan anak-anak sebagai materian dasar, guru-guru sebagai mekanik, kurikulum sebagai kepala pabrik dan lulusan dianggap sebagai suatu hasil produksi.
Dengan analogi seperti ini guru (termasuk guru BK) hanya merupakan tenaga teknis yang terbiasa menjadi pelaksana pelayanan; baik konsep, metode, media, atau bahkan kebijakan tanpa mengetahui tingkat efektifitas layanan tersebut. Sebagai pelaksana mereka tidak cukuyp kritis atas apa yang dilakukannya, yang penting pekerjaannya selasai.
Metrler (2011) mengingatkan bahwa terdapat empat macam sumber informasi yang biasanya digunakan untuk menjawab pertanyaan baik terkait dengan teori Bimbingan dan Konseling atau praktis bimbingan dan konseling, yaitu tenacity (berdasarkian keyakinan), authority (kekuasaan), intuition, science (cara ilmiah).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar