Senin, 20 April 2015

Pie Buah uji oba anak Kreatif

Aku punya banyak hobi seperti membaca novel, mengoleksi buku bacaan, membuat kaligrafi, membuat kerajinan tangan, mengambil poto, jalan-jalan dan lainnya. Satu yang lupa aku tulis, aku juga suka membuat kue.

Membuat kue merupakan hal yang menyenangkan, menghabiskan waktu di dapur membuat kue-kue yang enak dan cantik. Entah ini bakat atau karena terbiasa membantu mama membuat kue saat Ramadhan dan Idul Fitri. Yah, mama biasa membuat kue untuk berbuka puasa karena lebih bersih dan hemat katanya. Dan menjelang Idul Fitri mama pasti membuat kue kering untuk disuguhi pada tamu, tidak hanya kue kering, ada juga puding atau cake.
Dalam hal membantu, terkadang aku dimarahi mama karena aku berantakan, atau sering membuat adonan kue menjadi bentuk-bentuk yang sedikit aneh sesuai imajinasi ku, maklum karena aku sedikit kreatif. Haha...

Melihat aku yang sedikit kreatif, disaat aku beranjak dewasa mama memberikan kebebasan untuk aku dan saudara-saudara ku yang lainnya. Untuk masalah membuat kue, aku juga diberi kesempatan untuk mencoba resep baru yang aku dapatkan dari buku, koran, majalah, atau searching internet. 

Jadilah pie buah pada hari sabtu diawal bulan april kemarin, hasil googling resep aneka pie. Alhamdulillah rasanya dapat diterima dengan baik oleh para pencicip, sepupu, tante, termasuk mama. Aku sendiri tidak suka pie buah, tapi aku suka pie asin lainnya. Tak mengapa, kue yang aku buat biasanya disukai sepupu-sepupuku.

Ada satu cita-citaku yang sudah aku tulis di daftar cita-cita, yaitu ingin menjadi patissier dan memiliki usaha dibidang pastry. Will my dream come true? Inshaallah! Doakan kawan!

Ini poto dari pie buah yang aku coba di dapur.

Minggu, 19 April 2015

Belajar dari Umar Radiallahu 'anhu

.

كَانَ عُمَرُ يُنَادِي زَوْجَتَهُ يَا بِنْتَ الْاَكْرَمِيْنَ
Dahulu ‘Umar memanggil istrinya “wahai keturunan orang-orang mulia.
كَان يُكْرِمُهَا وَيُكْرِمُ اَهْلَهَا
Umar sangat memuliakannya dan juga keluarganya.
فِي اِحْدَى اللَّيَالِي كَانَ سَيِّدُنَا عُمَرُ بْنِ الْخَطَّابِ يَدُوْرُ حَوْلَ الْمَدِيْنَةِ لِيَتَفَقَّدَ أَحْوَالَ الرَّعِيَّةِ, فَرَأَى خَيْمَةً لَمْ يَرَهَا مِنْ قَبْلُ فَأَقْبَلَ نَحْوَهَا مُتَسَائِلًا مَا خَبَرُهَا. فَسَمِعَ أَنِيْنًا يَصْدُرُ مِنَ الْخَيْمَةِ فَازْدَادَ هَمُّهُ. ثُمَّ نَادَى فَخَرَجَ مِنْهَا رَجُلٌ.
Pada suatu malam baginda ‘Umar bin Khottob berkeliling di sekitar kota Madinah untuk mencari tahu kondisi rakyatnya. Lalu ‘Umar melihat sebuah tenda yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya. ‘Umar pun menuju ke arah tenda tersebut seraya bertanya-tanya apa yang terjadi. Lalu ‘Umar pun mendengar suara mengaduh berasal dari tenda tersebut bertambahlah kegelisahannya. Kemudian seorang pria keluar dari tenda tersebut
فَقَالَ مَنْ اَنْتَ؟
‘Umar bertanya: siapa anda?
فَقَالَ: اَنَا رَجُلٌ مِنْ اِحْدَ الْقُرَى مِنَ الْبَادِيَةِ وَقَدْ أَصَابَتْنَا الْحَاجَةُ فَجِئْتُ اَنَا وَأَهْلِيْ نَطْلُبُ رَفْدَ عُمَرَ. فَقَدْ عَلِمْنَا اَنَّ عُمَرَ يَرْفِدُ وَيُرَاعِي الرَّعِيَّةَ.
Pria itu menjawab: saya adalah seseorang yang berasal dari salah satu kampung arab badui, kami memiliki keperluan maka aku bersama keluargakuk pun datang untuk meminta bantuan ‘Umar. Sungguh kami telah mengetahui bahwa ‘Umar membantu dan menolong rakyatnya

Rabu, 15 April 2015

Pemimpi yang tertidur

Sudah lama rasanya berjalan tanpa arah yang pasti, menyesuaikan dengan keadaan, dan target-target pun tidak banyak yang dibuat. Seperti orang yang sudah tua, bersantai-santai setiap hari. Ternyata ini membuat lemah. Jantung jarang sekali berdegup kencang, mata lebih banyak tertutup. Buku semakin banyak berdebu.

What a lazy day! Jenuh ternyata, di saat santai seperti ini. Handphone rajin sekali di cek, resent update terus dibuka. Ternyata di sana aku melihat teman-teman yang karirnya semakin menanjak dan membuat cemburu, pendidikan mereka terus terasah semakin ahli. Poto-poto piala bergantian di upload mereka. Aku? Hanya jadi penonton.

Oke, saatnya kembali berpacu dengan waktu. Saatnya mencoret kalender setiap malam dan menuliskan rencana-rencana kecil untuk mimpi yang besar. Harus kuat untuk terjaga lebih lama lagi. Harus tumbuh dengan semangat bersaing kembali. Semua agar jenuh dan penat tak lagi mengusik.

Benarlah bila kita di titik aman akan menjadi terlalu santai. Kalau mengingat bahawa umur sudah kepala 2, menyesal lagi dengan waktu yang tersia-siakan. Dan sadar waktu adalah pedang yang akan menyayatku bila tak lihai aku gunakan. Dan waktu tak bisa kembali.

Sudah lama sekali rasanya, aku tidak menuliskan mimpi-mimpi di atas kertas dan menempelkannya di dinding kamar dan cermin. Jangan sampai mimpi itu luntur bahkan hilang. Baru kemarin aku mendapat wejangan dari seorang pengusaha sukses di Tarakan, dengan yakin ia menyampaikan, "orang ngebut yang punya tujuan akan selamat, orang pelan tanpa tujuan bisa celaka". Itu cukup jelas untuk ku cerna.

Salam semangat para pemimpi!

Selasa, 14 April 2015

Belajar di luar kelas

Semua yang terjadi adalah kehendak-Nya.
Dari lahir sampai mati kita berjalan di atas takdir yang tertulis di lauhilmahfudz.

Hari ini bertemu dengan beberapa pedagang di pasar Gusher Tarakan untuk merekam wawancara pengembangan produk video skripsi. Tantangan setiap ingin melangkah, takut tolakan atau dimarah oleh orang yang tidak mau diwawancarai. Pada kenyataannya, alhamdulillah tidak semenakutkan yang dibayangkan. Dapat juga wawancara dengan 6 orang pedagang.

Orang pertama yang kuwawancarai seorang ibu, terlihat seperti seumuran mamaku, 45 tahunana. Ramah, berjilbab dan tampak sekali ia wanita yang tangguh dalam menjalani hidup. Saat ia menjawab pertanyaan yang kuajukan, ia meneteskan air matanya, terlihat tulusnya seorang ibu yang penuh harapan pada anak-anaknya. Semoga Allah memberkahi hidupnya dan anak-anaknya.

Tugas akhir seorang mahasiswa ini membuat aku yang jarang beraosialisasi dan masih egois ini belajar banyak, tak ada dari diktat kuliah, tak ada dari buku referensi manapun yang kubaca tentang hidup ini. Berhadapan dengan mereka yang tidak bertitel, tak juga berpangkat membuat ku mengetahui cara mereka menghadapi hidup dan tetap memiliki harapan. Terlihat jelas Sang Maha Pengasih tak pernah kehabisan KebaikanNya untuk Makhluk faqir tak berdaya, manusia.

Minggu, 25 Januari 2015

Setiap Hari Tanpa Spasi

Tanpa spasi, terus bersambung. Begitulah gambaran hari demi hari yang ku lewati dengan kedua kaki ini. Dari senin kembali senin, dari pagi kembali pagi. Berderet rencana sudah ada di kepala bersandar pada satu kata, insyaallah.

Bisa sekuat ini atas rahmat sang pencipta, subhanallah! Bisa semangat seperti ini karena mungkin esok sudah tidak ada lagi.  Banyak sekali inspirator yang menjadi acuan berjalan, tak terlupakan di daftar pertama inspirator adalah Nabi Muhammad SAW.

Terlatih dari perguruan silat semasa SMA untuk pantang menyerah sebelum mengeluarkan semua kemampuan, dilarang keras menampakkan kesakitan pada orang lain agar tak ada musuh yang memandang lemah. Beradu kecepatan seperti yang diajarkan asatiz di pondok kaligrafi Lemka agar lawan gentar, mengingat untuk tetap meletakkan mimpi dan cita-cita di tempat pertama agar bila jatuh masih di tempat ke dua atau ke tiga.

Hari-hari semestinya jadi kenangan terindah untuk diceritakan kepada anak dan cucu kelak, so we have to choose today is the great day it also tomorow. Berbekal bacaan inspiratif, bahwa hukum grafitasi berlaku di bumi ini, demikianya energi positif yang kita keluarkan akan menuebar dan memantul kembali kepada kita. Senyum, dan orang lain pun senang melihatnya, dan kita pun akan bahagia melihat mereka senyum, simple!

Berusaha menjadi orang bijak, yang memikirkan bahwa kematian selalu mengikuti kemanapun melangkah. Membawa pertanyaan di setiap saat, apakah bekal untuk di hari kemudian? Are you ready?

Tetap semangat pemirsah!
Bahagia itu pilihan!
Sukses itu pilihan!
Pilih yang tepat, hanya ada dua option di dunia ini!
Ya atau tidak?
Assalamualaikum!

Jumat, 16 Januari 2015

Berapa Lama Lagi?

Sembari menunggu giliran mama masuk ruang dokter, aku duduk di atas motor di luar ruang tunggu sendiri, di ruang tunggu itu sudah banyak pasien dan keluarga pasien yang juga sedang menunggu giliran bertemu dokter. Seperti biasa, ketika sedang sendiri dan menunggu, aku akan mengeluarkan gadget dari dalam tas untuk menghilangkan kebosanan, just browsing something new at pininterest or instagram. Kepalaku akan selalu tertunduk bila sendiri seperti ini, tapi barusan aku melihat ke arah pintu, sesuatu hal yang jarang kusaksikan.

Seorang pria yang dari tampangnya seusia denganku, memegang tangan ibunya sambil keluar dari ruang tunggu menuju parkiran motor dan di belakangnya seorang pria yang usianya terlihat lebih tua darinya. Si ibu berjalan dengan perlahan, terlihat sulit baginya untuk melangkahkan kakinya sendiri. Mereka bercakap singkat, bukan maksudku menguping, terdengar si anak yang muda berkata "mama tadi ngak mau banyak tanya di dalam" sambil melemparkan senyuman pada ibunya. Dan kemudian ia menaiki motornya dan di susul ibunya di belakangnya yang dibantu oleh lelaki yang lebih tua tadi. Aku pikir mereka menggunakan dua kendaraan, ternyata mereka hanya menggunakan 1 motor, dan mereka bonceng 3.

Mungkin kalau dilihat sepintas, mereka melanggar peraturan lalu lintas, tapi adakah yang sadar bahwa mereka sedang berusaha untuk merawat ibunya. Mungkin saja mereka tidak punya mobil, sehingga mereka berusaha membawa ibunya berobat dan menjaga agar ibunya tetap aman di bonceng maka harus ada seseorang dibelakangnya. Mereka berusaha dengan sedemikian cara walau ada peraturan yang mereka langgar.

Di rumah lain, tak banyak orang yang mau seperti mereka, bahkan sekalipun mereka memiliki mobil pribadi, untuk mengantarkan orang tuanya pergi kedokterpun masih enggan. Apa lagi menggenggam tangan orang tuanya, menaiki sepeda motor bonceng tiga melanggar aturan lalu lontas dan malu dilihat orang.

Naudzubillah...
Semoga kita termasuk anak yang soleh-soleha, rela berkorban demi orang tua walaupun harus berkorban. Ingatlah terus bahwa kita tak terlahir langsung besar dan dapat berlari. Ada pengorbanan yg lebih besar dari orang tua kita mengurus hingga dewasa.

Bila nyawa kita tak lagi di badan, hanya tersisa pahit penyesalan.
Bila nyawa tak lagi dibadannya, hanya dapat mengenang dan merindu buaiannya.

Kamis, 15 Januari 2015

Penawar segala Rasa

Perasaan itu hal paling abstrak yang ku punya. Dalam sekejap berubah, dan terkadang tidak terkontrol. Sehari bisa jadi ngerasain senag, sedih, gugup, putus asa dan lainnya. Dan yang paling buruk ketika perasaan mendung datang, tanpa alasan jelas hujan pun turun.

Saat hati mulai berubah rasa menjadi baik, tak mengapa. Siapa yang tidak senang merasa senang? Namun siapa tidak sedih bila merasa sedih? Yap... sedih yang datang, galau yang menyerang, dan air mata yang menemani itu ingin segera dirubah menjadi baik. Ada satu cara terbaik yang berdasarkan penelitianku selama ini, berdasarkan pengalaman dan telah di perilakukan selama beberapa waktu kemudian menghasilkan keberhasilan, yaitu datang kepada Sang pembolak-balik hati.

Dengan segala beban yang tersangkut di kepala atau pundak, dan semua rasa yang bersarang di hati, datang dengan segenap kelemahan pada Sang Perkasa yang memiliki semesta, dan hati. Lepaskan keluh kesah, jangn lupa pujian pun di sandingkan dalam percakapan.

Sungguh tiada yang paling setia mendengarkan selain Sang Maha Pendengar. Tiada yang paling mengerti selain Ia yang Maha Tau. Sungguh ia yang Maha pengasih yang akan mengasihi siapapun yang datang denganNya dengan penuh kepercayaan dan kepasrahan.

Dan hal yang paling abstrak yang bahkan aku sendiri tak tau menggambarkannya, namun Ia sungguh tau apa yang terjadi dan apa penawar dari segala masalah. Hingga hujan yang bersama mendungnya perasaan menjadi hujan yang segar menantikan pelangi.
Laa illaha illa anta.... ya muqolibal qulub.