Balikpapan - 2011, saat pertama kali tangan ini dihadiahkan piala sebagai khototoh penulis naskah Al-qur'an terbaik pertama tingkat provinsi Kalimantan Timur. Malam yang penuh rahmat dari Sang Pengasih dan Penyayang. Bukan sekedar piala yang kuterima saat itu, hadiah dan juga bonus lainnya dari provinsi juga kota pun datang tanpa kuperkirakan.
2011, di tahun inilah pertama kalinya aku mendapatkan kesempatan umrah, bonus yang diberikan pemerintah kota kepada para juara provinsi. Subhanallah... Mimpi tak pernah, berharap pun saat itu hanya sekedar harap bisa melaksanakan haji kecil itu.
Tapi, hadiah itu dikeluarkan dalam bentuk tunai atas beberapa permintaan teman yang lain. Jadilah hadiah itu menjadi uang tunai, dan akhirnya aku pun tidak melaksanakan umrah. Dan setelah dipertimbangkan dengan Mama, orang pertama yang selalu kujadikan tempat meminta pendapat dalam hal yang serius, maka uang itu dijadikan biaya kuliah.
2011 tahun awal aku masuk kuliah, menjadi MaBa di Universitas Borneo Tarakan jurusan Bimbingan Konseling. Ini cita-citaku, untuk menjadi guru. Sempat terpikir bagaimana cara untuk bisa kuliah saat itu dan beberapa waktu sebelumnya, karena kondisi keuangan keluarga yang kuperkirakan akan terbebani bila ditambah dengan biaya kuliahku nantinya. Sebagaimana yang kubaca "man jadda wa jada", itu lah yang kuyakini. Subhanallah hingga ada jalan yang Allah berikan hingga bisa masuk kuliah tanpa membebani keluarga, cara ini tak pernah kuperkirakan sama sekali.
Belajar di Alkhairaat dari SD membuatku sering mendengarkan penggalan ayat Al-Qur'an dan hadits Rasulullah SAW, dan yang kuingat sampai sekarang "segala perbuatan tergantung dengan niatnya". Diajarkan untuk meniatkan segala perbuatan kebaikan dengan berniat, dengan harapan Allah akan meridhoinya. Dari sinilah aku selalu penuh dengan mimpi, harapan, dan cita-cita.
Hadiah umrah pertama yang dijadikan biaya kuliah itu, membuatku memiliki keinginan menaikkan haji orang tua dan diriku sendiri, serta melaksanakan umrah bagi mereka dan juga diriku.
Allahuakbar, Allah Maha Mendengar. Doa ku didengar oleh Allah.
2016, MTQ pertama Provinsi Kaltara. Atas kekuasaannya, aku diberikan kesempatan menerima penghargaan sebagai khatatah penulis naskah terbaik.
Pada tahun ini aku berharap sekali untuk dapat melaksanakan umrah dan membawa serta Mama, entah mengapa aku sangat menginginkannya berbeda saat di tahun 2011 yang lalu. Hingga dalam doa-doa kusertakan keinginanku ini. Betapa inginnya aku sehingga aku bersholawat untuk keinginanku ini. Kutulis dikertas seperti biasa, daftar keinginanku dan kutempelkan di dinding dekat meja belajar di kamar.
Sempat aku memikirkan, apakah mungkin aku bisa melaksankan umrah? Alhamdulillah keraguan itu bisa ku singkirkan dengan doa dan sholawatku. Membaca cerita sahabatku Jeanithia (khatatah asal Lombok) yang dapat mencium hajar aswad dengan selalu bersholawat, mendengar ust.Yusuf Mansur dan anaknya Wirda yang mengatakan, kalau mau apa-apa itu di sholawatin. Maka akupun ikut dengan mereka.
Saat pembagian hadiah di MTQ kabupatem, aku tak mendengar ada bonus umrah. Ada sedikit sedih di hatiku. Dan dijelaskan lagi bahwa tahun ini tidak ada bonus umrah dari kabupaten pada juara-juara. Dan ini membuatku benar-benar sedih. Subhanallah, semua itu tak membuatku patah harapan. Aku tetap berharap walau ada rasa sedih, terpikir bahwa mungkin bukan tahun ini aku bisa umrah.
Pada MTQ provinsi, saat pengumuman juara, alhamdulillah aku mendapatkan terbaik. Tak ada lagi harapanku untuk umrah dari hadiah MTQ dan tak ada juga bahasan mengenai hadiah umrah dari provinsi selama aku mengikuti MTQ. Namun setelah pengambilan piala, saat kami diarahkan untuk mengambil sertifikat dan pengukuran seragam untul MTQ Nasional, ada teman yang menyampaikan, "ada bonus umroh dari Gubernur". Aku tersentak, masyaallah kaget sekali, dan kuyakinkan kembali, " betul bahh?", "iya! Tadi ada sambutan dari gubernur setelah pembagian piala, katanya mau ngasih bonus umroh", begitu kata temanku. Aku tersenyum lebar, Allahumma sholiala Muhammad.
Dan aku masih belum 100% yakin, supaya aku tak kecewa nantinya. Akupun tak mencari tau lagi informasi umrah itu. Beberapa minggu setelah selesai MTQ Nasional ada sms masuk, " diharapkan umtuk membuat paspor untuk persyaratan umrah", kurang lebih begitu bunyinya. Dan saat itu aku laporan ke Mama, "Ma, Dede dapat bonus umrah lagi, Mama lah yang berangkat", Mama bilang, "Dede dulu lah yang pergi, insyaalloh tahun depan buat Mama yah". Sambil senyum Mama sampaikan begitu.
Subhanallah, Allah benar-benar memberikan kesempatan padaku untuk menjadi tamunya, untuk melaksanakan umrah di tahun 2016 ini. Dan rasa cinta ini pada Rasullullah semoga selalu ditambahkan dan menjadi rahmat dalam kehidupanku dan keluargaku. Sholawat itu menjadi bunga dalam doaku, mengharumkan harapanku hingga selalu segar. Sholawat itu menjadi penenangku saat aku yang penuh khilaf ini, sempat takut Allah tak mendengarkanku.
Semoga Allah memanggil kalian semua wahai saudara muslimku dan juga diriku untuk melaksanakan kewajiban berHAJI, dan semoga kita di panggil untuk menjadi tamunya melaksanakan sunnah Rasulullah untuk umrah.