Rabu, 03 Desember 2014

Menjadi Nona Manise di Ambon

Bermimpi adalah salah satu dari hobiku. Tahun 2010 aku bermimpi ke Ambon untuk mengikuti MTQ (Musabaqah Tilawati Qur'an) yang akan dilaksanakan tahun 2012. Mimpi ini kutulis di atas kertas putih ukuran f4 dengan spidol berwarna merah, kutempel di lemari di kamar asrama saat masih belajar di Lemka. Ngak peduli saat itu aku belum pernah masuk sebagai finalis MTQ provinsi, bahkan nilai ujian setiap khat aja dibawah standar, bahkan pernah dapat 30 pemirsah, tapi aku dengan PeDenya bermimpi.
Saat itu MTQ nasional 2010 diselenggarakan di Bengkulu, Lemka saat itu sangat kekurangan guru, bahkan santrinya juga pada hilang, sepi sekali. Mereka semua ikut berlaga di MTQ nasional, dan aku hanya mendengar kabar mereka yang menjadi juara saat itu. Miris. Dan dari kejadian ini lah aku pengen bingits ikut MTQ nasional, dan aku tau itu akan di selenggarakzn di Ambon, wow jauh dari tanah kelahiranku.
Singkat cerita, saat MTQ provinsi Kalitim yang tuan rumahnya adalah kota Tarakan, yaitu tempat hidupku selama kurang lebih 13 tahun, aku ikut mewakili kafilah tuan rumah. Besaaaaaaaaar banget beban yang ada di pundak, was-was menghantui berbulan-bulan sebelumnya, cemas memikirkan bakal juara berapa. Dan semua itu alhamdulillah terlewati juga, saat diumumkan pemenang khatil qur'an golongan naskah putri, dan disebut nama lengkapku dunia seakan gempa, dan tepuk tangan orang-orang saat itu membuatku seperti seorang model kelas dunia yang sedang jalan di catwalk dengan anggunya, ucapan selamat dari mama, saudara, dan semua yang ada saat itu membuat jantungku berdegup kencang. Mungkin kalau aja di tensi saat itu tekanan darahku sampai 200/90 hahahaa...
Finnaly, mimpi yang kutulis di kertas dan bertengger di lemari selama kurang lebih 2 tahun itu become true! Dan, manjada wajada! Allah membuktikan padaku untuk kesekian kalinya bahwa ia tak pernah berdusta akan janjinya.
Setelah mengambil piala, berfoto bersama kontingen, mengambil hadiah (saat yang paling ditunggu semua finalis), kemudian dipanggil untuk ukur baju untuk seragam kafilah ke Ambon, masyaallah! Ketemu dengan para juara dari kota/kabupaten lainnya! Dapat teman baru, dan aku patahkan piala orang lain saat itu. Hahahaaa.... ntar aku ceritain yah.
Setelah pembekalan atau training centre di Samarinda kurang lebih 2 minggu, kami bersiap untuk terbang ke Ambon, dengan kafilah Kalimantan Timur. Panjang perjalanan dari SamRinda ke Ambon, kami transit di dua bandara, totaly kami menginjak 4 bandara untuk samapai di Maluku, Ambon.
Pertamakali turun di bandara Pattimura kami disambut dengan setangkai mawar merah. Menikmati perjalanan menuju pemondokan kafilah, mataku tak letih merekam setiap sudut yang dapat kulihat dari jendela bus. Melalui jalan di pinggiran tebing, di samping pantai yang panjang danjernih, membuatku sadar bahwa Maluku atau Ambon yang ada dipikiranku selama ini berbeda! Akupikir di sana gersang, nyatanya disana hijau dan akupikir masih sangat desa, eh ternyata ibukotanya rame juga broh. Dan yang ngak nyangka sama sekali pantai di sana cantik masyaallah dan bersih!
Aku ngak akan cerita panjang mengenai bagaimana perlombaan di sana, intinya aku ngak dapat juara, cuman berhasil mencapai urutan ke 11 dari sekitar 30 peserta, aku yakin ini karena aku ngak ada persiapan yang matang. Hahaa
Ngak masuk final ngak membuatku sedih, karena aku tau saat itu kemampuanku belum setajam kemampuan senior-senior lainnya. Jadi aku luapkan rasa sedikit kecewaku dari hasil yang kudapat dengan JALAN JALAN!
Nona mau ke mana? Kata tukang becak pada ku dan Manis (sohib seperjuangan dari Tarakan). Kami jawab, kami mau ke.... bingung mau ke mana. Kami ngak tau mau kemana, yang jelas kami butuh makan saat itu, keliling deh naik becak dan dengar cerita si bapak tentang Ambon, setelah mutar-mutar kami akhirnya makan di Mall, di KFC. Disana lumayan susuah dapat tempat makan yang halal, kecuali di daerah muslim.
Ngak cuman mutar-mutar di kota Ambon, alhamdulillah kami dapat kesempatan pergi ke daerah-daerah wisatanya juga, bareng kontingen dan bareng keluarga angkatnya teh Ai (my best teteh ever!). Kami awali menjelajah dengan keluarga angkat teteh. Kami di ajak ke Hila, cari deh di google map!
Di sana kami berkunjung ke masjid tertua yang di bangun tanpa paku loh pemirsah. Terus kami pergi ke benteng peninggalan penjajah bekanda, tepat dipinggir pantai, dan saat itu juga kami ketemu si bolang yang lagi shooting episode di Ambon. Trus kami poto-poto samapai capek. Dan kami juga di suguhkan makanan khas Ambon, yah Papeda! Nyummy! Makan di saung rumah si bapak yang dibuat tepat di sebelah kanan rumahnya, dibawah pohon jambu air, dengan pemandangan pantai biru. Serasa di hotel berbintang! Ikan yang kami makan asli masih segar dari laut di depan mata kami. Jadilah kami seperti orang kampungan yang baru liat makanan enak. Hahahaaa
Teruuuus.... kami juga jalan-jalan bareng kontingen, ke pemandian air panas, ke sungai yang ada belut raksasanya, sama ke pantai juga, lupa pantai apa, sangking banyaknya pantai yang kudatangi nih. Dan yang menyenangkan dari perjalanan ini selain bisa poto poto, aku bisa langsung bercakap-cakap dengan penduduk setempat, dan melihat kebiasaan mereka di sana sehari hari. Baru pernah liat orang masak di dalam tanah, baru pernah liat anak-anak nyebur kesungai tanpai sehelai benang pun, porno cuy. Dan baru pernah lihat sekaligus mencoba cara makan papeda yang benar, dengan satukali sefot, dan membuat teh ai pengen muntah. Hahaaa
Oiya, di bagian kotanya, kamu bisa nemuin gong besaaaar. Itu adalah gong perdamaian dunia, taukan bahwa pernah terjadi konflik di Ambon. Selain itu ada juga tugu Trikora. Kalau kamu nginap di Hotel yang berada di tengah kota, kamu bisa jalan-jalan dan melihat semua itu hanya dengan naik becak.
Pemirsah, seng makan jadi lapar, makan seng perut tarobek!
Ini dulu yah tentang Ambon yang bisa beta sampaikan, jika katong su baca ini tulisan beta ucapkan terimakasih. Salam dari nona manise!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar