Rabu, 10 Desember 2014

Sensasi KKN Adu Nyali

Kuliah? Semester berapa? Apaaaaa? Satu? Dua? Tiga? Belum menantang!
Semangat yah! Di semester kedepan bakal banyak pengalaman seru yang akan kamu rasakan!
Nah kalau udah semester 5 dan seterusnya, pasti udah tua kan? Hahahaa
Pemirsah! Yang anak kuliahan, mantan anak kuliahan, atau bakal jadi anak kuliahan pasti tau donk yang namanya KKN.

Oke, KKN adalah singkatan dari Kuliah Kerja Nyata, suatu bentuk program dari perkuliahan jika kamu berada di Universitas. KKN ini merupakan program bersyarat, biasanya sebelum mengambil MK KKN ini kamu harus menempuh >100 sks. Jadi KKN bukan mainan anak-anak semester bawah. Hehehee

Program KKN di kampus merupakan perwujudan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu bentuk dari Pengabdian Kepada Masyarakat. Nah, udah kebayangkan apa saja yang dilakukan mahasiswa KKN?

Penempatan KKN biasanya di daerah yang masih tertinggal, atau daerah yang bukan kota besar. Di mana daerah tersebut masih sangat membutuhkan sentuhan-sentuhan inovativ dari pemuda-pemudi yang bergelar MAHA. Tuntutan pelaksanaan KKN ngak susah-susah amat sih, yang penting punya program kerja yang sesuai dengan sikon penempatan.
Kali ini saya mau berbagi sedikit pengalaman KKN saya yang saya laksanakan pada tahun 2014, bulan agustus-september selama 40 hari. Tepatnya kelompok KKN saya di tempatkan di Desa Long Liku, Kecamatan Mentarang, kab. Malinau, Kalimantan Utara, Indonesia. Lengkapkan alamatnya, jelas lah... saya kan sekretaris di kelompok KKN waktu itu yang kerjanya dengan laporan.

40 hari pelaksanaan KKN ini jelas sangat singkat, senior-senior terdahulu bilang kalau mereka KKN 3 bulan broh! Gilee bakalan coklat semua warna baju tuh. Tapi kebijakan kampus kesayangan yang mulai dirubah membuat waktu KKN semakin singkat, say Alhamdulillah!
Pelaksanaan KKN waktu itu tepat di bulan Puasa, dan yang cetarnya daerah itu mayoritas bergama nasrani, OMG!
Baru pertama sampai setelah menyebrang sungai dengan speedboat selama 3 jam, dan angkot kurang lebih 1 jam kami ke rumah Pak Kades, setelah di terima, kami diberikan posko, alhamdulillah ngak serumah sama warga. Diberikan posko yaitu rumah pak sekdes yang belum selesai, lumayan panjang dan besar, kamarmandi pakai shower, hahaa nikmat yang kami terima luar biasa dibanding posko lain. Tapi pakai shower air murni lansung dari sungai mentarang, yang hampir setiap hari berwarna coklat pemirsah.

Hari pertama sampai ini kami langsung beres-beres di posko karena rumah baru, alias perdana di gunakan oleh kami. Dan kami lupa buka puasa saat itu, ngak kedengeran adzan, ngak ada masjidnya. Dan akhirnya kami buka puasa saat hari sudah gelap, mungkin sudah hampir Isya. Langsung deh masak sebisanya untuk makan malam. Dan perlu saya beritahukan keistimewaan kelompok kami yaitu setiap anggota rajiiiiiin semua, apalagi untuk urusan makan, pada rajin masak, kecuali saya yang memang kurang berpengalaman di DPR, dapur.

Dan yang berkaitan dengan judul dalam kisah ini adalah peristiwa yang terjadi pada suatu malam di posko. Singkat cerita malam itu hujan deras! Anak-anak cowok duduk di teras sambil ngobrol, kami yang cewek di kamar bertujuh sudah pewe mau bocan (bobo cantik). Saat saku sudah mulai terlelap, sekitar jam 12 aku bingung kok tiba -tiba dibangunkan sama teman lainnya, dan mereka bicara bisik-bisik. Kaget! Langsung aku sadar penuh dan mengira-ngira apa yang terjadi, mungkin ada pencurian, atau acara adat yang rusuh, tapi bukan! Semakin deras hujan diluar, dan kamipun merapat seperti sanggar tetumpuk pisang.

Ternyata di teras ada orang mabuk yang nyamperin anak-anak cowok yang lagi ngobrol diteras. Mereka tinggalin orang mabuk masuk ke posko, dan orang mabuk itu masih di teras. Daaaaan taukah kalian, orang itu mengetok pintu posko, daaaaaan kemudian dia(bang jek) masuk ke posko lewat jendela pemirsah, terdengarlah kemudian langkah kaki bang jek, semakin lama semakin dekat suara langkahnya, daaaaan, shurrrrt.... dia menyingkap tirai kamar kami yang tak berpintu itu. Dengan dua bola matanya menatapi kami satu-persatu di dalam kamar. Allahuakbar, Allah mendengar doa-doa dalam hati kami. Bang jek menutup kembali tirai kamar dan ke ruang tamu sambil berteriak, "dekk... dekk..." ia mencari anak-anak cowok yang tadi dia liat duduk diteras.

Beberapa detik setelah ia teriak keluarlah anak-anak cowok posko kami dan datang juga pak kades yang sudah di telpon oleh ketua kelompok di tengah hujan deras itu. Mereka membujuk si bang jek untuk pulang kerumahnya dan tidak mengganggu kami. Taukah kalian saat itu posko kami tidak memiliki kunci pintu dan kunci jendela, maklum rumah baru.
Ini lah uji nyali bagi kami sekelompompok saat itu. Serba salah, takut dihajar warga kalau kita kasar sama si abang jek itu, secara kami takut karena berada di kampung orang. Dan takutnya ntar dia keluarkan geng mabuknya, mampuslah tuh kami. Alhamdulillah Allah masi melindungi.
Inilah suasana posko kami

Tidak ada komentar:

Posting Komentar